Sarat Makna dan Filosofi, Pagelaran Wayang Kulit Ki Subardi Sukses Tutup Rangkaian Bersih Desa Kalur

Rika Aji 10 Juni 2026 09:19:01 WIB

SID- 01-06-2026 Gema tradisi dan keluhuran budaya Jawa menutup lembaran akhir dari seluruh rangkaian panjang agenda adat Rasulan (Bersih Desa) Kalurahan Ngunut tahun 2026. Tepat pada Senin malam, 1 Juni 2026, Pemerintah Kalurahan Ngunut menggelar acara pamungkas berupa Pagelaran Wayang Kulit Semalam Suntuk.

Acara yang dinanti-nanti oleh para pencinta seni adiluhung ini dimulai tepat pukul 20.00 WIB hingga selesai dini hari, bertempat di Komplek Balai Kalurahan Ngunut. Halaman balai desa tampak dipadati oleh lautan warga yang antusias menyaksikan warisan budaya bangsa ini.

Sentuhan Magis Dalang Lokal Kharismatik

Pagelaran wayang kulit pada malam puncak ini terasa sangat istimewa dan dekat di hati masyarakat karena dipimpin langsung oleh dalang kebanggaan lokal yang sarat pengalaman, Ki Subardi.

Dengan kepiawaiannya mengolah sabetan wayang, keunikan banyolan dalam sesi goro-goro, serta kemampuannya menghidupkan karakter tokoh perwayangan, Ki Subardi berhasil menghanyutkan emosi para penonton yang hadir. Alunan gending Jawa dari para yogo dan suara merdu para sinden semakin menambah kesakralan dan kemeriahan atmosfer di komplek balai kalurahan.

Bukan Sekadar Hiburan, Tetapi Tuntunan Hidup

Pemerintah Kalurahan Ngunut menegaskan bahwa pagelaran wayang kulit ini bukan hanya berfungsi sebagai sarana hiburan (tontonan) gratis bagi masyarakat pasca-panen raya, melainkan juga sebagai medium penyampaian pesan spiritual dan sosial (tuntunan). Lakon yang dibawakan oleh Ki Subardi malam itu sarat akan pesan moril tentang keadilan, kegotongroyongan, kepemimpinan yang amanah, serta pentingnya menjaga keharmonisan alam dan sesama manusia.

"Wayang kulit adalah puncak dari refleksi rasa syukur warga Ngunut dalam tradisi Rasulan ini. Melalui cerita yang dibawakan malam ini, kita belajar tentang kebijaksanaan hidup. Kami berharap, tontonan ini bisa meresap menjadi tuntunan bagi seluruh pamong dan warga untuk terus melangkah bersama membangun desa," ujar perwakilan dari Pemerintah Kalurahan Ngunut dalam sambutannya.

Simbol Persatuan dan Sinergi Warga

Hingga paruh malam, antusiasme penonton tidak surut. Agenda ini dihadiri komplit oleh jajaran Lurah beserta segenap Pamong Kalurahan, Bamuskal, tokoh adat, lembaga desa, serta ribuan warga dari 3 padukuhan yang membaur dengan hangat. Kehadiran para pedagang UMKM lokal di sekitar lokasi acara juga turut menggerakkan roda ekonomi kerakyatan selama acara berlangsung.

Pagelaran wayang kulit semalam suntuk ini berjalan dengan sangat aman, tertib, dan lancar hingga fajar menyingsing. Dengan berakhirnya pagelaran ini, seluruh rangkaian adat Rasulan Kalurahan Ngunut 2026 resmi ditutup, meninggalkan semangat baru bagi masyarakat untuk mewujudkan Kalurahan Ngunut yang maju, aman, sejahtera, dan berkebudayaan.

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Kode Keamanan
Komentar
 
Pencarian
Sekilas Info!
Arsip Artikel
Komentar Terkini
  • Fauzan za
    ...baca selengkapnya
    14 April 2026 19:02:53 WIB
  • Lose Handoko
    Secara pribadi saya mengapresiasi langkah dan pela...baca selengkapnya
    05 September 2024 12:08:35 WIB
  • Prananto
    Mantabs Gan ... Lanjutkan !...baca selengkapnya
    16 Mei 2019 12:58:40 WIB
  • marsono
    Sukses terus buat KT Desa Ngunut, terus ber jiwa s...baca selengkapnya
    22 Maret 2017 21:40:38 WIB
Layanan Via WhatsApp
Statistik Kunjungan
Hari ini
Kemarin
Total Visitor
Media Sosial